Serangan 10 November 1945 di Surabaya bukan sekadar pertempuran biasa, melainkan sebuah peristiwa heroik yang mengukuhkan tekad bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan. Peristiwa ini terjadi dalam konteks yang lebih luas dari perjuangan kemerdekaan Indonesia, di mana berbagai pertempuran dan perjanjian diplomatik saling berkaitan membentuk narasi sejarah nasional.
Latar belakang Pertempuran Surabaya bermula dari kedatangan pasukan Sekutu ke Indonesia pasca-kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II. Meskipun awalnya diklaim bertujuan melucuti senjata tentara Jepang dan memulangkan tawanan perang, kedatangan pasukan Sekutu—yang didominasi oleh tentara Inggris dengan membawa serta pasukan Belanda (NICA)—dipandang sebagai upaya mengembalikan penjajahan Belanda. Ketegangan memuncak ketika pada 27 Oktober 1945, pesawat Sekutu menyebarkan pamflet yang memerintahkan rakyat Surabaya menyerahkan senjata dan mengakui kekuasaan Sekutu. Ultimatum ini ditolak mentah-mentah oleh rakyat Surabaya yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Bung Tomo.
Puncak konflik terjadi pada 10 November 1945 ketika pasukan Sekutu melancarkan serangan besar-besaran terhadap kota Surabaya. Pertempuran ini dikenal sebagai salah satu pertempuran terberat selama revolusi kemerdekaan, dengan korban jiwa yang mencapai ribuan di pihak Indonesia. Meskipun kalah dalam hal persenjataan, semangat perlawanan rakyat Surabaya—yang kemudian dikenal sebagai "Arek-arek Suroboyo"—menjadi inspirasi bagi perjuangan di daerah lain. Pertempuran ini juga mempercepat solidaritas internasional terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dalam konteks yang lebih luas, Pertempuran Surabaya tidak dapat dipisahkan dari peristiwa-peristiwa lain seperti Pertempuran Ambarawa yang terjadi hampir bersamaan. Pertempuran Ambarawa (12-15 Desember 1945) merupakan konflik antara pasukan Indonesia dan Sekutu di Jawa Tengah, yang berakhir dengan kemenangan Indonesia dan pengusiran pasukan Sekutu dari kota tersebut. Kedua pertempuran ini menunjukkan pola yang serupa: resistensi lokal terhadap kehadiran pasukan asing yang dianggap mengancam kemerdekaan.
Di sisi diplomasi, Perjanjian Linggarjati (15 November 1946) menjadi upaya untuk menyelesaikan konflik secara damai antara Indonesia dan Belanda. Perjanjian ini mengakui kedaulatan de facto Republik Indonesia atas Jawa, Madura, dan Sumatera, meskipun dalam praktiknya Belanda terus melakukan agresi militer. Konteks diplomatik ini penting untuk memahami mengapa pertempuran seperti di Surabaya terjadi—sebagai respons terhadap ketidakpercayaan terhadap niat baik pihak asing.
Peristiwa sejarah lain yang patut dicatat adalah Pertempuran Bukittinggi di Sumatera Barat dan peran Pasukan Siliwangi dalam berbagai pertempuran di Jawa Barat. Meskipun terjadi di lokasi yang berbeda, semangat perlawanan yang sama terlihat dalam pertempuran-pertempuran tersebut. Perjuangan ini bukan hanya tentang mengusir penjajah, tetapi juga tentang mempertahankan identitas dan kedaulatan bangsa yang baru lahir.
Dari perspektif militer, Pertempuran Surabaya menunjukkan pentingnya strategi perlawanan rakyat (people's war) melawan pasukan yang lebih modern. Arek-arek Suroboyo menggunakan taktik gerilya urban, memanfaatkan pengetahuan lokal tentang medan pertempuran, dan menunjukkan keberanian yang luar biasa meskipun menghadapi artileri berat dan pesawat tempur Sekutu. Semangat ini yang kemudian diabadikan dalam lagu "Halo-Halo Bandung" dan menjadi bagian dari memori kolektif bangsa.
Peringatan 10 November sebagai Hari Pahlawan bukan tanpa alasan. Pertempuran ini mengajarkan nilai-nilai kepahlawanan, patriotisme, dan persatuan dalam keragaman. Surabaya pada tahun 1945 adalah kota kosmopolitan dengan penduduk dari berbagai etnis dan agama, namun mereka bersatu melawan ancaman bersama. Pelajaran ini relevan hingga hari ini dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam historiografi Indonesia, Pertempuran Surabaya sering dibandingkan dengan peristiwa serupa di daerah lain seperti Puputan Margarana di Bali atau Perang Saparua di Ambon. Meskipun konteks lokalnya berbeda, benang merahnya adalah perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Perbandingan ini membantu kita memahami bahwa perjuangan kemerdekaan adalah gerakan nasional yang melibatkan seluruh wilayah Nusantara.
Warisan Pertempuran Surabaya masih terasa hingga kini. Monumen Tugu Pahlawan di Surabaya menjadi simbol perjuangan tersebut, sementara nama "Bung Tomo" dikenang sebagai orator yang membangkitkan semangat juang. Nilai-nilai yang diperjuangkan dalam pertempuran ini—kemerdekaan, kedaulatan, dan harga diri bangsa—terus menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia.
Dari sudut pandang internasional, Pertempuran Surabaya menarik perhatian dunia terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Media internasional meliput pertempuran ini, dan simpati terhadap perjuangan Indonesia mulai tumbuh di berbagai negara. Ini menjadi modal diplomatik yang penting dalam perjuangan pengakuan kedaulatan Indonesia di forum internasional seperti PBB.
Pelajaran penting dari Pertempuran Surabaya adalah bahwa kemerdekaan tidak diberikan, tetapi diperjuangkan. Meskipun Proklamasi Kemerdekaan telah dibacakan pada 17 Agustus 1945, pengakuan kedaulatan memerlukan pengorbanan darah dan nyawa. Pertempuran Surabaya, bersama dengan pertempuran lain seperti Pertempuran Ambarawa, menjadi bukti nyata dari pengorbanan tersebut.
Dalam konteks pendidikan sejarah, penting untuk mengajarkan Pertempuran Surabaya tidak sebagai peristiwa yang terisolasi, tetapi sebagai bagian dari rangkaian peristiwa revolusi kemerdekaan. Kaitannya dengan Perjanjian Linggarjati, pertempuran-pertempuran lain, dan dinamika politik internasional memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang kompleksitas perjuangan kemerdekaan.
Sebagai penutup, Serangan 10 November 1945 di Surabaya tetap relevan sebagai pelajaran sejarah tentang keberanian, persatuan, dan tekad sebuah bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Warisan peristiwa ini mengingatkan kita bahwa kemerdekaan adalah anugerah yang harus dijaga dengan mengisi pembangunan bangsa secara positif, sebagaimana semangat yang ditunjukkan oleh para pejuang Surabaya 78 tahun yang lalu.